Makna Naturalisasi dan Aturannya

Makna Naturalisasi dan Aturannya
share artikel
Naturalisasi telah menjadi kata yang sering terdengar, gara-gara fenomena 'pemain asing' yang marak berpindah kewarganegaraan.
Arti Naturalisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

Naturalisasi adalah pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing; hal menjadikan warga negara; pewarganegaraan yg diperoleh setelah memenuhi syarat sebagaimana yg ditetapkan dl peraturan perundang-undangan.

Fenomena Pemain Lintas Negara

'Pemain lintas negara' yang saya maksud adalah, pemain yang bermain di negara tertentu tapi lahir di luar negeri atau memiliki darah campuran.

Ini belum masuk pada kategori naturalisasi. Naturalisasi adalah jalan terakhir untuk merekrut pemain asing, jika dia tidak punya darah keturunan lokal atau tdak lahir di negara tersebut.

Sebelum Piala AFF 2010, tren 'pemain lintas negara' sudah terlihat perkembangannya sejak Piala Dunia. Tidak sedikit yang bermain di negara yang bukan merupakan tanah kelahirannya. Isu ini legal, namun menjadi pro-kontra yang agak mengusik.

Baca juga: 10 Pemain Dunia yg Tdk Bermain utk Tanah Kelahirannya

Di timnas Jerman, hampir separuh skuadnya terlahir di negara lain atau memiliki darah campuran. Timnas Jerman tidak sepenuhnya diwakili oleh orang yang lahir di Jerman.

Lukas Podolski, Miroslav Klose dan Piotr Trochowski lahir di Polandia kemudian bermigrasi ke Jerman saat mereka masih kecil. Claudemir Jeronimo Barreto (Cacau) lahir di Brazil dan menjadi warga Jerman setelah tinggal di sana selama sepuluh tahun.

Dalam kasus sebaliknya, ada juga pemain yang tetap membela tanah kelahirannya meski sudah menetap lama di negara lain. Didier Drogba lahir di Pantai Gading tapi menghabiskan masa mudanya di Prancis. Lionel Messi juga tetap membela Argentina meski telah tinggal di Spanyol sejak kecil.

Kisah paling unik barangkali menyangkut Boateng bersaudara, Kevin-Prince dan Jerome. Mereka lahir di Jerman dari seorang ibu keturunan Ghana. Jerome pilih membela tanah kelahirannya (Jerman), sementara Kevin-Prince lebih suka membela negara ibunya (Ghana).

Aturan FIFA tentang Kewarganegaraan

Ada dua aturan yang berkaitan dengan keberadaan 'pemain lintas negara'. Pertama, adalah aturan dari negara/pemerintah yang bersangkutan tentang kewarganegaraan; dan yang kedua, aturan dari FIFA.

Masing-masing negara memiliki peraturan yang berbeda tentang status kewarganegaraan. Sementara FIFA juga punya aturan sendiri tentang pemain seperti apa yang boleh bermain untuk negara tertentu. Jadi seorang 'pemain lintas negara' atau pun pemain naturalisasi,  harus memenuhi kedua aturan tersebut. Di sini hanya akan dibahas aturan dari FIFA.

Pedoman utama FIFA berisi dua hal pokok: (1) Pemain boleh membela sebuah negara yang sesuai dengan status kewarganegaraan-nya; (2) Jika pemain sudah pernah bermain di tim senior sebuah negara, dia tidak boleh lagi bermain untuk negara lainnya.

Untuk lebih jelasnya, silakan lihat Statuta FIFA

Regulasi FIFA juga memperhatikan situasi-situasi yang mungkin terjadi berkaitan dengan kewarganegaraan.


Pemain dengan Kewarganegaraan Ganda

Beberapa negara memperbolehkan adanya kewarganegaraan ganda. Untuk mengantisipasi kasus kewarganegaraan ganda, FIFA mengijinkan pemain bebas memilih negara mana yang akan dibela. Namun sekali memilih dan bermain untuk timnas senior, dia tidak boleh bermain untuk negara lainnya.

Selain itu, sedikitnya salah satu dari 4 syarat berikut harus terpenuhi:
  1. Si pemain lahir di negara tersebut;
  2. Ayah atau Ibu kandungnya lahir di negara tersebut;
  3. Kakek atau Nenek kandungnya lahir di negara tersebut;
  4. Si pemain telah menetap 2 tahun berturut-turut di negara tersebut.

Contoh pemain yang berkewarganegaraan ganda adalah Mauro Camoranesi (Italia-Argentina). Status kewarganegaraannya memungkinkan Camoranesi untuk membela Argentina atau Italia, namun akhirnya dia memilih Italia.


Aturan Pemain Naturalisasi

Untuk pemain naturalisasi atau pemain yang berpindah kewarganegaraan, juga tidak serta-merta bisa langsung membela negara barunya. Syarat pokoknya sudah pasti, pemain tersebut belum pernah bermain untuk timnas senior negara lamanya. Jadi jikalau Christiano Ronaldo mau dinaturalisasi, dia tetap tidak bisa membela timnas Indonesia.

Naturalisasi
Naturalisasi tidak bisa seenaknya.

Ditambah lagi, sedikitnya salah satu dari 4 syarat berikut harus terpenuhi:
  1. Si pemain lahir di negara tersebut;
  2. Ayah atau Ibu kandungnya lahir di negara tersebut;
  3. Kakek atau Nenek kandungnya lahir di negara tersebut;
  4. Si pemain telah menetap selama 5 tahun berturut-turut pada saat usianya 18 tahun ke atas.

Poin terakhir dari persyaratan di atas bertujuan untuk mengantisipasi kenakalan negara tertentu yang berniat melakukan naturalisasi instan. Batasan usia 18 tahun dimaksudkan untuk menghindari terjadinya eksploitasi kepada pemain muda usia.

Contohnya adalah kasus Christian Gonzales. Dia tidak memenuhi persyaratan no.1 sampai no. 3. Namun kebetulan, aturan domisili FIFA sesuai dengan UU kewarganegaraan Indonesia: Gonzalez harus 5 tahun berturut-turut menetap di Indonesia untuk mendapat status WNI.

Dengan peraturan FIFA yang demikian, sebuah negara bisa mengisi skuad tim nasionalnya dengan 'pemain asing' sebanyak yang mereka mau, sepanjang persyaratan-persyaratannya terpenuhi.

Hal ini menciptakan situasi dimana sebuah negara sangat mungkin tidak benar-benar diwakili oleh pemain-pemain asli dari negara tersebut. Paling buruk, kelemahan aturan legal ini bisa dimanfaatkan seperti kasus Qatar yang memiliki 15 'pemain asing'. Lebih menyedihkan, mereka dibayar untuk menjadi pemain naturalisasi.


Naturalisasi di Indonesia

Sejak Piala AFF 2010, Indonesia memang tampak demam naturalisasi. Jauh-jauh hari PSSI bertekad meningkatkan kualitas timnas dengan mendatangkan 'pemain asing'.

Karena tidak mampu membina peman di negeri sendiri, mencuri pemain yang dibesarkan di negeri lain dianggap sebagai solusi brilian.

Di Piala AFF 2010, Christian Gonzales sebagai pemain naturalisasi memang telah memberi warna baru untuk tim nasional. Perdebatan tentang keberadaannya wajar. Namun terlalu jahat pula jika memandang sinis Christian Gonzales. Usaha dan kesabarannya untuk mendapat status WNI telah menunjukkan betapa dia memang ingin menjadi bagian dari bangsa kita.

Kenapa kita harus menolak mereka yang ingin berjuang atas nama Garuda? Hanya saja, jangan karena legalitas euforia naturalisasi, terus menjadikannya sebagia sebuah proyek pembentukan tim nasional.

Kita boleh menjadi bangsa yang terbuka menerima saudara, tapi jangan lalu membabi buta berburu pemain untuk dinaturaliasi.
[edit post]

↓ tanggapan / komentar (14)

  1. Anonim11.12.10

    euforia naturalisasi jgn sampai membuat pembinaan pemain muda asli lokal terlupakan..

    BalasHapus
  2. Katanya masih ada 7 lagi yg mau di naturalisasi ya.. Buat piala dunia

    BalasHapus
  3. Terima kasih sudah melengkapi tulisan saya dengan sudut pandang dari statuta FIFA, sementara saya menulis topik naturalisasi dari sudut pandang UU Kewarganegaraan RI.

    Secara pribadi saya ndak menolak pemain naturalisasi di timnas sepakbola atau timnas lainnya, yang penting dia memang memenuhi syarat naturalisasi yang berlaku di negara kita.

    Saya rasa picik banget kalau orang memandang sinis terhadap keberadaan Christian Gonzales. Sebab dia menjadi WNI setelah memenuhi segala peraturan, syarat dan prosedur yang ditentukan UU.

    BalasHapus
  4. @fb Waduh! :-p bisa juara dunia kita! hehe..

    BalasHapus
  5. @Agung Pushandaka Posisi kita hampir sama Mas Agung, Kenapa harus menolak mereka yang mau jadi sodara kita?

    Hanya saja, jangan terus menjadikannya sebagai proyek pembentukan tim nasional. Menaturalisasi 7 pemain sekaligus adalah sikap yg tidak natural.

    Jika 'membentuk timnas' ibarat masak nasi goreng.. 'pembinaan' adalah berasnya, dan 'naturalisasi' hanya telurnya. Pake beras impor sih masih gak masalah, krn masih bisa dimasak nasi goreng juga. Tapi kalo yang dibanyakin telurnya, namanya bukan nasi goreng lagi...

    BalasHapus
  6. @ABe Bagaskara

    Saya sepakat dengan anda Bung ABe. Tapi, kalaupun nanti memang benar ada 7 pemain lain yang akan dinaturalisasi untuk memperkuat timnas, selama dia memenuhi syarat yang ditentukan UU, saya pun akan mendukungnya. Misalnya, dia/mereka sudah/pernah menetap di Indonesia selama minimal 5th berturut-turut, atau 10th ndak berturut-turut. Seperti yang dialami Christian Gonzales.

    Tapi kalau naturalisasinya dibuat instan cuma untuk memperkuat timnas, saya tegas menolaknya. :)

    BalasHapus
  7. Artikelnya kreen...

    minta ijin untuk copas..
    Apakah di beri ijin

    ^_____^

    BalasHapus
  8. @luthfie fadhillah silakan.. feel free to share.. :-D

    BalasHapus
  9. Anonim21.12.10

    Silahkan saja, asal jangan kebanyakan,gak serukan kalau pemain keturunan lebih dari 5 orang.Trus pemain di indonesia (DAERAH) juga banyak yang bagus.Sayangnya cara prekrutan/pengambilannya harus pake duit.jadi kalau gak ada duit susah jadi pemain bola.walau jago main bola tapi miskin jangan harap jadi pemain bola.jadi PNS saja sogokan puluhan juta.jadi yang bikin hancur indonesia adalah budaya sogok

    BalasHapus
  10. Anonim22.12.10

    saat ini indonesia belum memakai pemain naturalisasi via pssi

    IRFAN BACHDIM itu bukan pemain naturalisasi karena sudah mengantongi paspor Indonesia sejak awal, memilih untuk menjadi WNI ketimbang Belanda pada usia 18 tahun

    C.GONZALES juga bukan pemain naturalisasi karena sudah menetap di Indonesia lebih dari 5 tahun dan menjadi WNI atas inisiatif sendiri, didukung Undang-undang No.12 Tahun 2006


    dan pemain naturalisasi via pssi yg pertama yaitu Kim Jefrrey Kurniawan

    BalasHapus
  11. Anonim23.12.10

    Apapun bntuk prjuanganya demi mmajukan prspakbolaan tnah air,naturalisasi atau tidak jika itu mmpu mndongkrak kualitas sepakbola nasional,kt ttp hrus dukung..asl smua ssuai dng prturan yg ada..

    BalasHapus
  12. Anonim1.1.11

    Adakah itu bermakna sesiapa saja yang menetap di Indonesia selama 5 tahun bisa menjadi WNI? SESIAPA SAJA? Termasuk peniaga dan pekerja asing? Atau hanya pemain sepak bola? Saya meliat di sini ada bias yang amat besar. Naturalisasi bagi pemain sepak bola digampangkan, sedang bagi orang lain tidak.
    Jangan samakan RI dengan Jerman atau mana-mana nusa dari Eropah. Mereka membenarkan dua kerakyatan untuk warganegaranya, sedang RI tidak.

    BalasHapus
  13. Kalau soal pemain naturalisasi..menurut saya tidak perlu karena hanya akan menghambat potensi dalam negeri...misalnya Cristian GOnsalez yang sekarang lagi berapi-api di Indonesia. Orang Uruguaay akan mengatatakn untung ada Cristian....

    BalasHapus
  14. kalau menurut saya sih naturalisasi untuk sekarang ini di timnas indonesia memang di butuhkan hanya untuk jangka pendek yang berguna untuk memancing prestasi. terus kita sambil berjalan melakukan apa yang namanya pembinaan sepakbola untuk pemain lokal dari level bawah (pemain muda). dengan program yang jelas, bertahap, dan konkrit saya yakin koq Indonesia bisa menghasilkan pemain hebat. sebagi bukti paling nyata adalah Spanyol. dari 11 pemain inti timnas, 7 pemain adalah jebolan akademi sepak bola Barcelona, dulu mereka pemain muda dalam 1 tim. makanya jangan heran kalo permainan Spanyol kompak, karena dari kecil aja mereka udah tau satu sama lain cara bermainnya.

    go garuda!

    BalasHapus

- artikel lainnya -