Bola Jabulani yang Terlampau Sempurna

Seharusnya Jabulani adalah bola yang paling sempurna. Bola produk Adidas ini dirancang di Loughborough University (Inggris), segala ilmu pengetahuan digunakan demi menghasilkan gaya aerodinamik yang superior.

Jabulani
"Kesempurnaan Jabulani yang dicerca"

Tapi apa yang terjadi? Jabulani justru menghasilkan masalah. Para kiper sulit menebak arah bola, dan para striker sulit menembak tepat sasaran.

Mereka yang Mengecam Jabulani..

Iker Casillas menyebut Jabulani terlalu ringan seperti bola voli pantai. Gianluigi Buffon dan Julio Cesar mengaku kecewa dengan bola resmi Piala Dunia 2010 ini. Fabio Capello menilai Jabulani adalah bola terburuk yang pernah dilihat sepanjang hidupnya.

Sementara Carlos Dunga sempat terlibat adu mulut dengan sekretaris FIFA Jerome Valcke dan menantangnya untuk mencoba Jabulani di lapangan.

Belum cukup. Luis Fabiano menjuluki Jabulani sebagai bola 'supernatural' yang sulit diprediksi. Robinho mengejek pembuat Jabulani sebagai seseorang yang tidak pernah bermain sepakbola. Lionel Messi dan Maradona sependapat, bahwa bola Jabulani sulit diarahkan. Morten Olsen, pelatih Denmark, juga punya istilah unik untuk Jabulani: 'impossible ball'.

Para Ilmuwan Menjawab Keluhan

Seolah tidak rela dengan keluhan tentang Jabulani, beberapa ilmuwan melakukan penelitian lebih lanjut terhadap bola yang dirancang dengan teknologi tinggi ini. Penelitian tersebut dipimpin oleh Eric Berton, deputy director Institut Ilmu Pergerakan di Marseille, Prancis.

Akar permasalahan ditemukan, dan kesimpulannya adalah:
Jabulani terlalu bundar sempurna sehingga lintasannya justru tidak sempurna.

"Jahitan di Jabulani berada di dalam, sehingga bola itu membentuk lingkaran sempurna. Karena bentuknya itu, momentum kontak dengan kaki berkurang. Akibatnya, bola nyaris tidak berputar. Bola menempuh jarak lebih pendek dan memiliki arah gerak yang sulit untuk ditebak."

Demikianlah penjelasan Eric Berton.

Tes yang dilakukan oleh ilmuwan Jepang Kazuya Seo bersama Universitas Takeshi Asai juga menyimpulkan hal yang serupa: Jabulani mendekati bentuk bulat sempurna sehingga bola bisa tiba-tiba bergerak pelan di udara, namun juga bisa bergerak lebih cepat.

Apa tanggapan FIFA?

FIFA telah memberi tanggapan seputar kontroversi Jabulani, tapi baru akan mengambil tindakan setelah Piala Dunia berakhir. Artinya Jabulani akan tetap digunakan selama turnamen berlangsung.

"Kami tidak tuli. FIFA bukanlah badan yang tidak mempan dengan masukan atau kritikan. Kami akan menyelidiki kasus Jabulani," demikian tanggapan sekretaris umum FIFA Jerome Valcke.

FIFA merencanakan akan berdiskusi dengan beberapa pelatih, kapten tim, dan pihak Adidas setelah Piala Dunia 2010 berlangsung. Pembahasan kontoversi Jabulani ini akan diselenggarakan dalam bentuk workshop demi mencari jalan keluar bersama.

Petr Chech Punya Pendapat Menarik...

"Saya bermain menggunakan bola tersebut kala Rep Ceska melawan Turki. Bagi saya tidak ada masalah, tapi mungkin tidak bagi kiper lain."

"Sekarang di event besar. Ada beberapa yang melakukan kesalahan termasuk kehilangan bola atau konsentrasi, tapi mereka mengecam bola. Saya pikir itu bukanlah sikap yang baik."

"Kita tidak bisa mengecam bola dan meminta menggantinya. Banyak hal lain yang lebih positif untuk menjadi sebuah alasan."


Jadi, apapun bolanya.. yang penting cantik mainnya.
Barangkali itu maksud Chech?

4 Feedback:

friendblogger :

harusnya sebelum dipakai di paiala dunia 2010, bolanya dites dulu di liga-liga

robby :

Wah...benar benar suatu artikel yg sangat bermanfaat ... khususnya buat konflik masalah jabuilani...

ABe :

@friendblogger.. bola ini sudah dipakai di beberapa partai Bundesliga. Wajar saja, adidas bermarkas di Jerman. Gara2 itu pula sempat muncul tudingan Jerman bisa tampil baik karena lebih terbiasa denagn Jabulani dibanding negara lain..

hanifa :

katanya sih jabulani tetep dipake soalnya pemaen gak ada yang komplen... lha sekarang kok... :(

Poskan Komentar

 
INDEX PAGE | Back to Top | YOUR ADS HERE? Contact Us!

© Copyright Blog Sepakbola | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates